Contoh4 Kti Tinjauan Pustaka Tentang Konsep Dasar

Ba

Tinjauan Pustaka

perawatan

Tinjauan Pustakaan Karya Tulis Ilmiah Akademi Keperawatan Pidie 2016

A.    Konsep Dasar
1.    Konsep Kecemasan

Kecemasan merupakan suatu kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. ( Stuart,2011 )

Kecemasan juga suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang disertai gejala fisiologis, sedangkan pada gangguan kecemasan terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasan tersebut ( David A. Tomb, 2011 )

Baca Juga :

LKP Mutiara Komputer – Kab. Pidie – Kursus Komputer. Alamat : Jl. Kota Bakti – Tangse No. 4 Beureunuen Pidie, Aceh 24173

Kecemasan merupaakan pengalaman emosional yang berlangsung singkat dan merupakan respon yang wajar, pada saat individu menghadapi tekanan atau peristiwa yang mengecam kehidupannya. Freud menyatakan bahwa kecemasan sebagai sinyal, kecemasan menyadarkan ego untuk mengambil tindakan defensif terhadap tekanan dari dalam diri. Misal dengan menggunakan mekanisme represi, bila berhasil maka terjadi pemulihan keseimbangan psikologis tanpa adanya gejala anxietas. Jika represi tidak berhasil sebagai suatu pertahanan,maka dipakai mekanisme pertahanan yang lain misalnya konvensi, regresi, ini menmbulkan gejala (Asnawi,2004).

1. Reaksi kecemasan
Adanya kecemasan dalam diri individu ternyata dapat menimbulkan reaksi – reaksi tertentu, dan masing – masing individu akan memberikan reaksi yang berbeda satu sama lain. Pada dasarnya reaksi kecemasan dapat di bedakan menjadi reaksi fisiologis dan psikologis. Reaksi fisiologis adalah reaksi tubuh, terutama organ organ – organ yang diatur oleh saraf simpatetis, seperti jantung, pembuluh darah, kalenjar, pupil mata, sistem pencernaan dan sistem pencernaan dan sistem pembuangan. (Darajad,2009).

Adanya kecemasan maka satu atau lebih organ – organ dalam tubuh tubuh akan meningkat fungsinya, sehingga dapat menimbulkan peningkatan jumlah asam lambung selama kecemasan, atau meningkatnya detak jantung dalam memompa darah sehingga jantung berdebar – debar, keluar keringat yang berlebihan, gemetar, sering buang air dan sirkulasi darah tidak teratur. Dalam cemas sering individu mengalami rasa sakit yang berkaitan dengan organ – organ tubuh yang meningkat fungsinya secara tidak wajar, misalnya ujung jari terasa dingin, pencernaan tidak teratur, tidur tidak nyenyak, nafsu makan hilang, kepala pusing, nafas sesak mual dan sebagainya. (Darajad,2009).

Reaksi psikolgis adalah reaksi kecemasan yang biasanya disertai oleh reaksi fisiologis, seperti adanya perasaan tegang, bingung, tidak menentu, terancam, tidak berdaya, rendah diri, kurang percaya pada diri sendiri, tidak dapat memusatkan perhatian dan gerakan – gerakan yang tidak terarah dan tidak pasti. (Darajad,2009)

Baca Juga :

Mitsubishi Xpander: Yuk Intip “Omotenashi” Kelebihan pada Kabin Mobil Mitsubishi Xpander

Ansietas ( kecemasan ) dapat ditemukan dimana-mana; tidak demikian dengan gangguan ansietas. Ansietas adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat di benarkan yang sering di sertai dengan gejala fisiologis, sedangkan pada gangguan ansietas terkandung unsur penderitaan yang bermakna dan gangguan fungsi yang disebabkan oleh kecemasan tersebut.

Gangguan ansietas dapat ditandai hanya dengan rasa cemas, atau dapat juga memperlihatkan gejala lain disertai fobia atau obsesif dan kecemasan muncul bila gejala utama dilawan. Rasa takut juga bersifat universal dan dapat menimbulkan gambaran gejala ansietas yang ringan; tetapi berbeda dengan ansietas penyebab rasa takut biasanya jelas dan dapat di pahami. Suatu gambaran yang lazim pada semua gangguan. (David A.Tomb 2004).

Ansietas diperantarai oleh suatu sistem kompleks yang melibatkan sedikitnya sistem limbik (amigdala, hipokampus ), talamus, korteks frontal secara anatomis dan norepinefrine (lokus seruleus), serotonin (nukleus rafe dorsal) dan GABA (reseptor GABA berpasangan dengan rseptor benzodiazepin)  pada sistem neurokimia.

Hingga saat ini belum diketahui jelas bagaimana kerja bagian – bagian tersebut dalam menimbulkan kecemasan. . (David A.Tomb 2004).
2.    Gejala fisik kecemasan
1.    Gemetar
2.    Berkeringat, telapak tangan dingin
3.    Paltipasi
4.    Otot tegang
5.    Sukar bernafas, Hiperventilasi
6.    Memerah, Pucat
3.    Gejala psikologis kecemasan
1.    Tegang
2.    Cemas
3.    Panik
4.    Merasa ketakutan
5.    Takut mati
6.    Sukar berkosentrasi
7.    Respon terkejut meningkat
4.    Tingkat Kecemasan
a.    Kecemasan ringan

Merupakan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari – hari. Individu sadar. Lahan persepsi meningkat (mendengar, melihat, meraba lebih dari sebelumnya ). Perlu untuk memotivasi belajar, pertumbuhan, dan kreativitas.

b.    Kecemasan sedang
Yaitu memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih banyak jika diberi arahan.

c.    Kecemasan berat
Lahan persepsi sangat sempit, seseorang hanya bisa memusatkan perhatian pada yang detil, tidak yang lain. Semua perilaku ditujukan untuk menurunkan kecemasan.

d.    Panik
Suatu kehilangan kontrol, seseorang yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan.

2.    Definisi Diabetes Melitus
Word healthy organization (WHO) sebelumnya telah merumuskan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tetapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi akibat dari sejumlah faktor dimana didapat defesiensi insulin absolut atau relatif dan bgangguan fungsi insulin (Sodoyo, 2009).

Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Brunner & suddarth, 2000).
Gangren adalah proses luka atau keadaan yang ditandai adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi (Askandar, 2001).

Gangrene didefinisikan sebagai jaringan nekrosis atau jaringan mati yang disebabkan oleh adanya emboli pembuluh darah besar arteri pada bagian tubuh sehingga suplai darah terhenti. Dapat terjadi sebagai akibat proses inflamasi yang memanjang; perlukaan (digigit serangga, kecelakaan kerja atau terbakar); proses degeneratif (arteriosklerosis) atau gangguan metabolik diabetes mellitus (Tabber, dikutip Gitarja, 1999).

3.    Macam –macam Gangren
1. Ganggren circulatoir. Tipe ganggren :Ganggren kering.
Penyumbatan arteri terjadi secara perlahan-lahan, mula-mula terlihat anemis lambat laun akan terjadi mummifikasi. Akhirnya ekstremitas akan susut, layu, berwarna hitam. Jika permukaan kulit tidak rusak, biasanya tidak akan kena infeksi. Bentuknya khas dan merupakan akibat penutupan arteria yang perlaha-lahan tetapi progresif.

2. Ganggren basah. Merupakan akibat penutupan arteri yang mendadak terutama pada anggota bawah dimana aliran darah sebelumnya mencukupi, misalnya terjadi emboli yang akut. Daerah yang terkena berbercak-bercak dan bengkak. Kulit kerapkali menjadi melepuh dan menjadi port d’ entre, infeksi kerap kali terjadi supra infeksi, bisa terjadi melalui daerah yang baru saja mengalami epidermophyyosis.

3 .Ganggren bakterial.Adalah nekrose jaringan akibat bakteri di dahului oleh beberapa derajat ganggren iskemik initial yang mengakibatkan terjadinya jaringan nekrotik yang penting bagi bakteri untuk tumbuh dengan cepat.

4.    Klasifikasi Diabetes Melitus
Ada beberapa tipe diabetes melitus yang berbeda : penyakit ini dibedakan berdasarkan penyebab, perjalanan klinik dan teraopinya. Klasifikasi diabetes yang utama adalah :
•    Tipe I : diabetes mellitus bergantung pada insulin  dependent diabetes mellitus (IDDM).

•    Tipe II : diabetes mellitus yang tidak bergantung pada insulin non – insulin – dependent diabetes mellitus (NIDDM).
•    Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya.
•    Diabetes mellitus gestasional (GDM).
(Brunner & suddarth, 2000).
Klasifikasi diabetes melitus (ADA, 2009).

I.     Diabetes melitus tipe I
a.    Melalui proses imunologik
b.    Idiopatik
II.    Diabetes melitus tipe II
(Bervariasi mulai yang pedominan resistensi insulin disertai defesiensi insulin relatif sampai yang pedominan gangguan sekresi insulin bersam resistensi insulin).
III.    Diabetes melitus tipe lain
a.    Defek genetik fungsi sel beta
b.    Defek genetik kerja insulin
c.    Penyakit eksokrin pankreas
d.    Endokrinopati
e.    Karena obat/zat kimia
f.    Infeksi
g.    Imunologi
h.    Sindrom genetik lain .

5.    Etiologi
a.    Diabetes tipe I
Diabetes tipe I di tandai oleh penghancuran sel – sel beta pankreas,  kombinasi faktor genetik, imunologidan mungkin pula lingkungan diperkirakan turut menimbulkan deskruksi sel beta .

b. Diabetes tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam  proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor – faktor resiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes melitus tipe II faktor – faktor ini adalah :

i.    Usia (resistensin insulin cederung meningkat pada usia diatas 65 tahun)
ii.    Obesitas
iii.    Riwayat keluarga
iv.    Kelompok etnik (diamerika serikat, golongan hispanik serta penduduk asli amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan golongan afro – amerika ). (Brunner & suddarth, 2000).

Insulin dependent diabetes melitus (IDDM) atau diabetes melitus tergantung insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel beta langerhans akibat proses autoimun sedangkan non insulin dependent diabetes (NIDDM) atau diabetes melitus tidak tergantung insulin (DMTTI) disebabkan kegagalan relatif sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. (arief, mansjoer, 2001).

6.    Diagnosis dan Manifestasi Klinis
Diagnosis diabetes melitus harus didasarkan atas pemeriksaan konsentrasi glukosa darah. Dalam menentukan diagnosis diabetes melitus harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. (Sudoyo, 2009)
Apabila ditemukan gejala khas diabetes melitus, pemeriksaan glukosa darah abnormal satu kali saja sudah cukup untuk menegakkan dignosis, namun apabila tidak ditemukan gejala khas diabetes melitus, maka diperlukan dua kali pemerikasaan glukosa darah abnormal (Sudoyo, 2009).

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes melitus pada orang dewasa yang tidak hamil pada sedikitnya dua kali pemeriksaan :
1.    Glukosa plasma sewaktu/random >200 mg/dl (11,1 mmol/l).
2.    Glukosa plasma puasa/nuchter >140 mg/dl (7,8 mmol/l).
3.    Glukosa plasma dari sampel yg diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam postprandial [pp] ) > 200 mg/dl (11,1 mmol/l).   (Brunner & suddarth, 2001).

7.    Tinjauan Fisiologi dan Patofisiologi
Fisiologi normal.
Insulin disekresikan oleh sel-sel beta yang merupakan salah satu dari 4 tipe dalam pulau-pulau langerhans pankreas. Insulin merupakan hormon anabolik atau hormon untuk menyimpan kalori (storage hormone). Apabila seseorang makan  makanan, sekresi insulin akan meningkat dan menggeraskan glukosa kedalam sel – sel otot, hati serta lemak. Insulin juga menghambat pemecahan glukosa, potein dan lemak yang disimpan.

Selama masa “puasa” (antara jam-jam makan dan pada saat tidur malam), pankreas akan melepaskan secara terus menerus sejumlah kecil insulin bersama dengan hormon pankreas lain yang disebut glukagon (hormon ini disekresikkan oleh sel-sel alfa pulau langerhans). Insulin dan glukagon secara bersama-sama merpertahankan kadar glukosa yang konstan dalam darah dengan menstimulasi pelepasan glukosa dari hati.
Pada mulanya, hati menghasilkan glukosa melalui pemecahan glikogen (glikogenolisis). Setelah dan hingga 12 jam tanpa makanan, hati membentuk glukosa dari pemecahan zat-zat selain karbohidrat yang mencakup asam-asam amino (glukoneogenesis). (Brunner & Suddarth, 2001).

8.    Patofisiologi Diabetes
Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin  karena sel – sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia – puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemis prostprandial (sesudah makan).

Jika kosentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar ; akibatnya, glukosatersebut muncul dalam urin (glukouria). Ketika glukosa yang berlebihan dieksresikan ke dalam urine, eksresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuretik osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan  yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia).

9.    Pencegahan
Menurut WHO tahun 1994, upaya pencegahan pada diabetes ada tiga jenis atau tahap, yaitu :

a.    Pencegahan primer : Semua aktivitas yang ditujukan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia pada individu yang beresiko untuk jadi diabetes atau populasi umum.

b.    Pencegahan sekunder : Menemukan pengindap diabetes sedini mungkin, misalnnya dengan test pennyaringan terutama pada populasi resiko tinggi, dengan demikian pasien diabetes yang sebelumnya tidak terdiagnosis dapat terjaring, hingga dengan demikian dapat dilakuka upaya untuk mencegah komplikasi atau kalaupun sudah ada komplikasi masih reversibel.

c.    Pencegahan tersier : Semua upaya umtuk mencegah timbulnya komplikasi atau kecacatan akibat komplikasi itu. Usaha ini meliputi ; mencegah timbulnya komplikasi, mencegah progresi dari pada komplikasi itu supaya tidak menjadi kegagalan organ, mencegah kecacatan tubuh.

10.Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada tahap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal tanpa tejadinya hipoglikemia dan ganguan serius pada pola aktivitas pasien.

Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1.    Diet.
2.    Latihan.
3.    Pemantauan.
4.    Terapi (jika diperlukan)
5.    Pendidikan.
(Brunner & suddarth, 2001).

Penanganan disepanjang perjalanan penyakit diabetes akan bervariasi karena terjadinya perubahan pada gaya hidup, karena fisik dan mental penderitanya disamping karena kemajuan dalam metode terapi yang dihasilkan dari riset.karena itu, penatalaksanaan diabetes meliputi pengkajian yang konstan dan modifikasi rencana penanganan oleh profesional kesehatan disamping penyesuaian terapi oleh pasien sendiri setiap hari.

Meskipun tim kesehatan akan mengarahkan penanganan tersebut, nnamun pasien sendirilah yang harus bertanggung jawab dalam pelaksanaan terapi yang kompleks itu setiap harinya. (Brunner & suddarth, 2001).

Menurut arief mansjoer (2001). dalam jangka pendek penatalaksanaan diabetes melitus bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala diabetes melitus. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa, lipid dan insulin. Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri.

Sedangkan menurut Bruner & Suddarth (2000), tujuan  utama dari pengobatan adalah untuk mencoba menormalisasi aktivitas insulin dan kadar glukosa darah untuk menurunkan perkembangan komplikasi neuropati dan vaskuler. Tujuan terapeutik pada masing – masing tipe diabetes adalah untuk mencapai kadar glukosa darah (euglikemia) mengalami hipoglikemis dan tanpa menganggu aktivitas sehari –hari pasien dengan serius.

B.    Gambaran Tingkat Kecemasan Pada Pasien Gangren Di Ruang RPDP RSU  TGK CHIK DI TIRO SIGLI.

1.    Pendidikan
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan penelitian, proses, cara, perbuatan medik (Depdiknas, 2005).

Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku, semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin diperhitungkan. Menurut Azwar (2002), merupakan suatu faktor yang mempengaruhi prilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan seseorang serta berprilaku baik, sehingga dapat memilih dan membuat keputusan dengan lebih tepat.

Slamet (2003), menyebutkan semakin tinggi tingkat pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat bagi dirinya dan keluarganya. Dengan berpendidikan tinggi, maka wawasan pengetahuan semakin bertambah dan semakin menyadari bahwa begitu penting kesehatan bagi kehidupan sehingga termotifasi untuk melakukan kunjungan kepusat-pusat pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Sejalan dengan pendapat Slamet, Singarmnbun (2003), juga menyebutkan kelengkapan status imunisasi anak tertinggi pada ibu yang berpendidikan SLTP keatas sebanyak 30,1%. Berdasarkan penelitian Azwar (2001) juga di simpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ibu maka makin besar peluang untuk mengimunisasikan bayinya yaitu 2,215 kali untuk pendidikan tamat SLTA/ke atas dan 0,961 kali untuk pendidikan tamat SLTP/sederajat. Ibu yang berpendidikan mempunyai pengertian lebih baik tentang pencegahan penyakit dan kesadaran lebih tinggi terhadap masalah-masalah kesehatan yang sedikit banyak telah di ajarkan di sekolah.

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam serta sesama manusia (Ahmadi, 2000).
Tingkat pendidikan di bagi 3 (tiga) kategori menurut Depdiknas, 2002 yaitu:

a.    Perguruan Tinggi atau Akademi (DIII) di kelompokkan pendidikan tinggi.
b.    SLTA/sederajat di kelompokkan pendidikan menenegah
c.    SD/SLTP/sederajat di kelompokkan pendidikan dasar.
2.    Pengetahuan

Menurut kamus bahasa Indonesia Pengetahuan adalah segala sesuatu yang di ketahui mengenai hal atau sesuatu. Pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang di miliki manusia tentang dunia dan segala isinya, juga mencakup manusia dan kehidupannya. Pengetahuan merupakan penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu, juga mencakup praktek atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum di buktikan secara sistematis (Slamet, 2002).

Berarti apa yang telah di ketahui dan lebih jelas lagi bahwa pengetahuan atau tahu adalah mengerti sesudah melihat, menyaksikan, mengalami atau di ajar. Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmodjo, 2003).

Pengetahuan seseorang di dapat dari pengalaman dan informasi yang di dapatkan, baik melalui pelatihan, bimbingan, pembinaan maupun melalui pengamatan, sehingga dapat memberikan tanggapan atau respon terhadap apa yang di amatinya. (Notoadmodjo, 2003).

Pengetahuan mempunyai 6 (enam) tingkat yaitu :

1.    Tahu (Know)
Tahu di artikan sesuatu materi yang telah di pelajari sebelumnya, termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah meningkat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang di pelajari atau rangsangan yang telah di terima.

2.    Memahami (Comprehension)
Memahami di artikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang di ketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar, misalnya dapat memahami tentang manfaat pemberian air susu ibu bagi ibu sendiri.

3.    Aplikasi (Aplication)
Aplikasi di artikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah di pelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

4.    Analisis (Analisys)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5.    Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukkann kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6.    Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu metode atau objek.

Dari beberapa uraian definisi dan tingkat pengetahuan sudah sangat jelas bahwa pengetahuan merupakan dasar seseorang berprilaku sehat. Salah satu perilaku sehat adalah upaya pencegahan penyakit sesuai dengan yang di kemukakan oleh H.L. Blom.

Banyak penelitian membuktikan bahwa pengetahuan secara jelas mempengaruhi kebiasaan dan adanya hubungan yang erat dengan perilaku seseorang terhadap objek tertentu, demikian juga pengetahuan ibu tentang manfaat pemberian air susu ibu bagi ibu cenderung di pengaruhi oleh tingkat pengetahuan yang di milikinya. Walau tidak dapat kita pungkiri bahwa pengetahuan saja tidak cukup, karena harus ada faktor pendukung lain misalnya tersedianya fasilitas, adanya informasi dan lain sebagainya (Sugeng, 2001)

3.Umur.
Umur adalah variabel yang selalu dipehatikan didalam penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur (Notoatmodjo, 2003).
Umur dikatagorikan menjadi 3 kelompok :

a.    Masa bayi dan anak-anak yaitu usia 0-14 tahun
b.    Masa muda dan dewasa yaitu usia 15-49 tahun
c.    Masa tua yaitu  keperawatan 2016asa usia 50 tahun ke atas.

Beureunuen.wordpress.com

Iklan

Tentang Samsul Lileue

Desa blang Lileue, JL Banda Aceh-Medan Km 123
Pos ini dipublikasikan di Karya Tulis Ilmiah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s